Kepemimpinan Berorientasi Pada Ilmu, Bukan Pada Semangat Militeristik
Good Fathers
Tulisan singkat ini untuk mengajak berpikir masyarakat Aceh dalam kepemimpinannya yang tidak memberi manfaat besar bagi rakyatnya terutama dalam politik, berbangsa dan bernegara.
Karena itu kita kembali ketitik nol dan dengan mengetahui seluk seluk kehidupan sosial maka kita bisa memberi batasan-batasan normatif terhadap masalah kita meskipun hanya dalam selayang pandang.
Dalam demokrasi semua orang diberi kebebasan berbicara, setiap warga memiliki hak mengeluarkan pendapat, menyampaikan ide, gagasan untuk bernegara, bermasyarakat dan membela harga dirinya.
Ingat bahwa Islam mengajarkan ummatnya bahwa perbedaan pendapat adalah rahmatan lil alamin.
Maka dalam Islam tidak ada keputusan untuk kepentingan bersama menurut keputusan seseorang, bahkan dalam memutuskan perkara hukum.
Ini bermakna bahwa tidak boleh ada kepemimpinan yang absolut yang melahirkan membuat keputusan secara sepihak. Itulah yang di kandung dalam semangat bermusyawarah.
Kalau kita pelajari secara mendalam dan kita manusia yang berpikir maka kita perlu memahami bahwa dalam kepemimpinan nabi Muhammad SAW, tidak ada satupun keputusan yang sepihak. Semua keputusan dimasa nabi dan penerusnya adalah keputusan yang dimusyawarahkan termasuk dalam penentuan khalifah setelah nabi wafat.
Keputusan tentang pemimpin juga tidak perlu ada fenomena rebutan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang hidup bernegara dimasa hidup kita. Semua calon khalifah adalah orang yang cukup dewasa dan mereka tunduk pada kemampuan pikir orang lain. Itulah kapasitas dan kualitas berpikir seseorang sebagai pemimpin.
Karena itu tidak pernah seorang khalifah ditentukan dengan orientasi pada siapa yang banyak ternaknya.
Bahkan seorang yang diunggulkan sebagai khalifah menyerahkan kepada seseorang yang lain karena kemampuan ilmu dan kearifannya.
Itulah yang disebut sistem demokrasi dan belum ada sistem lainnya yang adil dan memberi harga diri kepada warga masyarakat, masyarakat, suku dan bangsa manapun.
Lalu, kenapa dianggap asing? Jawabnya karena manusia demokrasi dari bahasa yunani, sementara kita beorientasi dengan bahasa Arab yang kita anggap suci. Tidak sedikit orang yang menginjak-injak buku yang berisi ilmu, sementara buku yang ditulis dengan bahasa arab meskipun sebatas syair yang dipahami dengan kitab justru disucikan.
Karena itu kita harus lebih banyak belajar, agar bangsa Aceh tidak selamanya dijajah oleh bangsa lain. Tahukah anda berapa lama bangsa Indonesia dijajah bahkan dengan senjata?
350 tahun, berapa generasikah bangsa ini dijajah, kenapa kita tidak pernah menyadarinya? Jawabnya karena banyak manusia yang memilih status quo sosial yang nyaman hidup dengan sistem penjajahan. Mereka tidak menyadari bahwa bangsanya diperbudak oleh bangsa lain.
Kalau kita pelajari dalam sistem kehidupan Islam maka mereka yang memilih kepemimpinan otoriter tidak berbeda dengan melawan Islam. Karena itu dalam membangun organisasi bermasyarakat, berpolitik dan bernegara yang berbau semangat militeristik sama dengan melawan sistem kepemimpinan nabi.
Untuk itulah maka perangilah mereka yang membagun organisasi politik dengan sistem "garis komando"
Karena apa? Tentu saja karena organisasi tersebut berlawanan dengan sistem kepemimpinan Islam.
Salam
Komentar
Posting Komentar